Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Widyatama Ciptakan Model Perangkat “Smart Parking”

Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Widyatama Ciptakan Model Perangkat “Smart Parking”

Dilansir dari Harian Pikiran Rakyat (5/10), Sering repot “nguriling” area untuk mendapat tempat parkir ? Rafli Rifaldi mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Widyatama sering mengalaminya. Rafli menceritakan pernah suatu kali dia senang menemukan lapak parkir di tempat perbelanjaan. Namun setelah didekati, ternyata lapak itu tak kosong. Mobil di sebelahnya diparkir terlalu maju sehingga menutup sebagian lapak yang dia incar.

Berangkat dari pengalaman  nya itu, mahasiswa semester VIII Universitas Widyatama itu membuat model model perangkat yang dinamai smart parking. Untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pegunjung, pengelola gedung perkantoran, hotel, perbelanjaan, dan sejenisnya bisa mengaplikasikannya.

Smart parking berkonsep sederhana yakni menggunakan sensor-sensor ultrasonik yang yang terhubung ke microcontroller. Melalui sensor ultrasonik yang dipasang di setiap lapak parkir (di belakang mobil), maka akan terdeteksi terisi tidaknya lapak tersebut. Terisi tidaknya lapak bisa dilihat melalui papan indicator sehingga memudahkan pengelola parkir mengetahui jumlah dan titik mana saja yang kosong.

microcontroller and microprocessor - Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Widyatama Ciptakan Model Perangkat “Smart Parking”

Rafli mengatakan microcontroller yang digunakan mampu mencakup 8 sensor/mobil. Perangkat simulasinya memakan biaya Rp. 600.000. Namun pengaplikasiannya dipalangan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi gedung parkir. Untuk sensor ultrasonic misalnya, bisa digantin dengan metal detector sehingga deteksi mobil lebih presisi karena sensor ultrasonic kurang akurat. “Orang lewat pun terdeteksi oleh sensor sehingga bisa di kira lapak parkirinya terisi.” Kata pria asli Kota Bandung itu.

Lalu microcontroller pun dapat diganti dengan merek lain yang bisa menampung lebih banyak sensor. Microcontroller pun menentukan kualitas nyala lampu indicator. Merek yang digunakan oleh Rafli seharga Rp. 200.000, masih memungkinkan lampu indikator berkedip-kedip. Rafli menawarkan merek lain seharga Rp. 500.000 yang memastikan lampu indikator akan “ajek” menyala sesuai hasil sensor.

Rafli mengkhususkan perangkat buatannya untuk membantu mencari lahan parkir. Namun konsep tersebut jug bisa digunakan untuk membantu rekayasa lalu lintas. Sensor bisa dipasang sekitar 100 meter s.d 150 meter dari lampu lalu lintas atau pada jarak yang dinilai termasuk antrean panjang. Jika panjang antrean mobil sudah terdeteksi pada jarak tesebut, polisi atau pengontrol sistem lalu lintas, bisa memprioritaskan “lampu hijau” untuk lajut tersebut.