Mengapa Harus Memilih Bahasa Jepang ?

Mengapa Harus Memilih Bahasa Jepang ?

Salam Sastra Jepang! Kali ini admin akan berbagi artikel yang bisa menginspirasi bagi kamu mahasiswa Sastra Jepang terutama bagi kamu yang masih berpikir dua kali setelah lulus di jurusan Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara. Kenapa masih berpikir dua kali? kan sudah lulus di Sastra Jepang. Mereka yang berpikir dua kali itu pasti karena mereka yang lulus di Sastra Jepang memikirikan mengenai stigma negatif yang ada pada orang-orang mengenai Sastra Jepang.

Biarkan mereka bicara. Ayo kita bertindak.! Sastra Jepang itu hebat lho! Kalau kita mau mencari kehebatan itu kita pasti menemukannya! Yok.Kita mulai ke pokok pembahasan.

Kamu pasti pernah ditanya dengan beberapa pertanyaan dibawah ini.
Berikut beberapa pertanyaan umum yang sering di tujukan kepada mahasiswa Sastra Jepang :
A   : Kuliah dimana?
me : Kuliah di UTama
A   : Jurusan?
me : Sastra Jepang..
A   : (70% kemungkinan pertanyaan dari si A 🙂
Mengapa memilih jurusan Sastra Jepang?
Kuliah Sastra Jepang mau jadi apa?
Kenapa kok mau ngambil jurusan Sastra Jepang?
Pasti karena pilihan ketiga.
(30% pertanyaan/kesimpulan dari si A : )
Oo.. Mau jadi orang Jepang ya?
me  : (” -_-)
Dah pandai lah sekarang bahasa Jepang. xixi
mau pengen ke Jepang ya?
  (20% pertanyaan/pujian dari si A 🙂
Hebat ya!! ajarin aku bahasa jepang lah!
Bahasa Jepang nya aku cinta kamu apa?
me  : (” -_-)

Nah, 95% mahasiswa Sastra Jepang pernah mengalami pertanyaan di atas dengan reaksi jawaban yang beragam. Tapi satu keyakinan besar yang dimiliki mahasiswa Sastra Jepang adalah “Hei para tukang ejek.! Suatu hari nanti aku pasti bisa lebih sukses darimu..!” lain lagi sama mahasiswa yang pesimis dan malas belajar.
Bagi sebagian besar orang, mereka banyak mengira kalau mahasiswa lulusan dari sastra jepang masa depan nya suram dan mimim peluang untuk bekerja. Padahal kenyataannya tidak demikian. Lulusan Sastra Jepang mempunyai banyak lapangan pekerjaan yang menanti mereka.

Berikut lapangan pekerjaan untuk lulusan sastra jepang :
Pekerjaan yang mengandalkan kemampuan Bahasa Jepang sebagai skill utama  :
– Translator, interpreter bahasa Jepang di perusahaan nasional dan internasional.
– Sebagai pendidik/pengajar bahasa Jepang di lembaga/institusi pendidikan.
– Bekerja sebagai staf di Konsulat atau Kedutaan besar Jepang.
– Departemen Luar Negeri.
– Diplomat untuk negara Jepang.
– Peneliti Sastra & Budaya Jepang
– Tour Guide bagi wisatawan asing, terutama wisatawan asal Jepang.
Banyak juga lulusan Sastra Jepang yang bekerja diluar jalur yang mereka ambil. ada yang bekerja di Bank, perusahaan Asuransi karena sistem penerimaan menerima semua jurusan. Itu sih tergantung orang nya, tiap orang kan punya jalan hidup masing-masing. Tapi alangkah baiknya lagi jika kita bisa bekerja dipekerjaan yang berada di jalur keilmuan kita. Paling tidak bekerja diperusahaan Jepang lah. (hehe..). Kalau bisa sih lulusan Universitas apapun jurusannya jadi pengusaha semua. biar menciptakan lapangan pekerjaan. alasan ketidakmampuan membuat usaha sendiri membuat lulusan universitas bekerja dengan orang lain sebagai pegawai. Sebagian pengusaha baru berkata ( Kerja sama orang dulu baru pekerjakan orang ) hehe.. (selesai bercandanya, kembali ke pembahasan)
Diluar Pekerjaan inti tersebut, banyak juga mahasiswa Sastra Jepang yang berkeinginan bekerja di negara Jepang.Tapi ada satu masalah yang sering menghampiri  mereka, masalah itu adalah tidak banyaknya lapangan pekerjaan di Jepang yang hanya membutuhkan kemampuan bahasa Jepang kita. Negara Jepang tidak hanya membutuhkan kemampuan bahasa Jepang saja, melainkan softskill kita diluar kemampuan bahasa Jepang.

Jadi yang HARUS ditelaah disini adalah mahasiswa Sastra Jepang harus bisa mengasah ketrampilan dan softskill mereka diluar kemampuan bahasa Jepang itu sendiri.
“Kapan kita mulai mengasah ketrampilan dan softskill kita? kan kita sibuk dengan materi perkuliahan?” Sastra Jepang tidak begitu sibuk kok, kalau kita pandai mengatur waktu.
Di Sastra Jepang UTama saja perkuliahan selesai paling jam 13.20. ada banyak waktu setelah itu. Nah. mumpung ada waktu apa salahnya kita pergunakan untuk melatih softskill dan keterampilan kita.

(dilansir dari http://aotakeusu.blogspot.co.id/)

Tatanan Dunia Baru dengan "Melek" Teknologi
Selamat Jalan Bapak Ontowiryo