Sinergitas Inilah Koran dengan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMMAK) Program Studi Akuntasi S-1 dan D-3 Universitas Widyatama

Belajar Investasi Sebelum Terjebak FOMO

Kegiatan Seminar Literasi Keuangan Pasar Modal (Investasi dan Saham) ini merupakan sinergitas antara Inilah Koran, BJB Sekuritas dan Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat dengan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMMAK) Program Studi Akuntansi S1dan D3 Universitas Widyatama.

Dalam sambutanya Ketua Program Studi Akuntansi S1,Dr.Syafrizal Ikram.,SE.,M.Si.,Ak.,CA menyampaikan kegiatan seminar literasi keuangan pasar modal (investasi dan saham) ini menjadi penting bagian dari pengayaan pemahaman mahasiswa tentang pasar modal selain didapat dari kelas, mahasiswa juga mendapat wawasan dari para pelaku pasar modal atau praktisi dan pada akhirnya membantu mahasiswa dalam merencanakan keuangan lebih cermat mulai dari usia dini.

Ucapan terima kasih kepada pimpinan Redaksi Inilah Koran Bapak Tantan Sulthon Bukhawan yang telah mensponsori di tahun kedua bagi kegiatan HIMAAK, dan juga BJB Sekuritas dan Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat sekaligus sebagai narasumber, ujarnya.

Sisi lain Ketua Program Studi menyampaikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis memiliki 5 Program Studi, yakni Akuntansi S-1 (Unggul), Akuntansi D-3 (Baik Sekali), Manajemen S-1(Unggul) , Manajemen D-3 (Baik Sekali) dan Perdagangan Internasional S-1 (Baik Sekali).

Khusus Program Studi Akuntansi S-1 di Universitas Widyatama telah berkontribusi menghasilkan alumni yang telah sukses di bidangnya sejak berdirinya pada bulan Maret 1973 yang awalnya bernama Institut Akuntansi Bandung (IAB) pendirian ini diprakarsai Prof.Dr. Koesbandijah Abdul Kadir, Ak.

Hal senada Bapak Ignatius Oki Dewabrata, S.E., M.Si., Ak., CA, Ketua Program Studi Akuntansi D3 Ignatius Oki Dewabrata, S.E., M.Si., Ak., CA, menyampaikan kegiatan Literasi keuangan ini bukan sekadar kemampuan mengelola uang lebih cerdas, melainkan membuka peluang bagi mahasiswa yang berminat untuk berinvestasi saham di pasar modal.

Gen Z kini menjadi kelompok terbesar di pasar modal Indonesia. Namun investasi tak cukup bermodal ikut tren dan rasa penasaran. Di ruang kelas, mereka belajar akuntansi, laporan keuangan, dan teori ekonomi. Namun di luar kampus, mereka hidup di tengah banjir informasi yang bergerak jauh lebih cepat daripada buku teks.

Setiap hari, media sosial dipenuhi cerita tentang saham yang melonjak, cuan yang menggiurkan, hingga influencer yang membagikan rekomendasi investasi. Di tengah derasnya arus informasi, banyak anak muda tergoda masuk ke pasar modal hanya karena takut ketinggalan tren. Bagi para mahasiswa yang hadir, kegiatan tersebut bukan sekadar mendengar paparan tentang investasi. Mereka diajak memahami bagaimana pasar modal bekerja, bagaimana membaca peluang, sekaligus memahami risiko yang menyertainya.

Direktur Utama PT BJB Sekuritas Maryadi Suwondo mengatakan, generasi muda saat ini menjadi kelompok yang paling dominan di pasar modal Indonesia, oleh karena itu penting untuk memberikan literasi dan edukasi kepada mereka, jangan sampai dalam mengambil keputusan investasinya hanya FOMO (Fear Of Missing Out) saja,” kata Maryadi.

Tingginya minat anak muda berinvestasi, menghadirkan tantangan baru berupa kebutuhan edukasi yang memadai. Maryadi mengakui sebagian besar mahasiswa sebenarnya sudah mengenal berbagai instrumen investasi seperti saham dan reksa dana, namun mengenal belum tentu memahami. Pasar modal bukan tempat untuk sekadar mengikuti tren, dibutuhkan kemampuan membaca kondisi perusahaan, memahami laporan keuangan, serta menilai prospek bisnis sebelum mengambil keputusan investasi harus berdasarkan analisa fundamental,” ujarnya.

Pengetahuan mengenai investasi harus dibangun secara bertahap agar investor muda memiliki bekal yang cukup ketika benar-benar terjun ke pasar modal. Perubahan teknologi juga ikut mengubah wajah investasi. Kini hampir seluruh aktivitas investasi dapat dilakukan melalui telepon genggam. Bahkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan dalam berbagai layanan keuangan.

Maryadi menilai perkembangan tersebut tidak bisa dihindari, BJB Sekuritas pun telah menyesuaikan dengan kebutuhan investor. Mekanisme digital dan AI sekarang menjadi keharusan,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Barat Dr. Achmad Dirgantara. Tingginya minat mahasiswa terhadap investasi harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Karena itu, dalam kegiatan tersebut mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga simulasi praktik yang memperkenalkan langsung mekanisme pasar modal. Kita mengharapkan para mahasiswa itu tidak hanya mendapat teori di kelas, tapi di sini diberikan aspek praktik langsung di lapangan.

Menurut Achmad, kunci utama menjadi investor bukanlah modal besar, melainkan kemauan untuk terus belajar. Investor muda harus mampu memahami kondisi perusahaan yang akan dipilih dan tidak sekadar mengikuti rekomendasi yang beredar di media sosial. Paling penting, para investor muda itu harus mengetahui dan memahami analisa fundamental. Dan itu sifatnya logis, bukan cuma ikut-ikutan,” katanya.

Data yang dimiliki Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah investor terbesar di Indonesia. Hingga Mei 2026 tercatat sekitar 5,53 juta investor berasal dari Jawa Barat. Di Kota Bandung sendiri terdapat lebih dari 403 ribu investor, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia muda di bawah 40 tahun.
Besarnya jumlah investor muda menunjukkan, kesadaran finansial mulai tumbuh sejak usia kuliah. Namun sebelum berbicara mengenai keuntungan investasi, ada fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu.

Officer Individual Banking Bank BJB Sofan Rahmat mengingatkan pentingnya kesehatan keuangan pribadi sebelum berinvestasi. Menurutnya, investor pemula sebaiknya memiliki arus kas yang sehat, tidak terjebak utang konsumtif, memiliki dana darurat, dan terlindungi asuransi.

Bagi Muhammad Rifqi Arifian selaku Ketua HIMMAK, mahasiswa Universitas Widyatama yang mengikuti kegiatan ini, mendapatkan pengalaman bertemu langsung dengan praktisi pasar modal yang memberikan pemahaman berbeda dibandingkan hanya belajar di kelas. Ikut dalam kegiatan ini, kami sebagai mahaiswa semakin melek tentang investasi di pasar modal. Kita diberikan simulasi untuk praktik langsung ke lantai bursa yang diajarkan langsung dari praktisi pasar modal,” ucapnya.