BANDUNG – Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Widyatama tampak berbeda dari biasanya selama tiga hari berturut-turut, mulai Selasa hingga Kamis (16-18/12/2025). Ribuan civitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, antusias mengikuti program pemeriksaan kesehatan komprehensif.
Langkah strategis ini merupakan wujud kolaborasi nyata antara Universitas Widyatama dengan Pemerintah Daerah melalui UPTD Puskesmas Pasirlayung dan Kecamatan Cibeunying Kidul. Kegiatan ini tidak hanya sekedar rutinitas medis, melainkan upaya preventif masif untuk mendeteksi Penyakit Tidak Menular (PTM) serta penyakit menular di lingkungan kampus.
Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik di Jawa Barat, Universitas Widyatama terus berkomitmen menjamin kesejahteraan sumber daya manusianya. Hal ini ditegaskan oleh Dr. R. Wedi Rusmawan Kusumah, S.E., M.Si., Ak., C.A., selaku Wakil Rektor Bidang SDM, Keuangan, Perencanaan, dan Tata Kelola.
“Tentunya kami sangat mendukung dan berterima kasih atas kepercayaannya sehingga kami dapat memfasilitasi kegiatan yang diadakan kecamatan maupun kelurahan. Kegiatan ini menambah rutinitas pengecekan kesehatan yang memang sudah dijalankan Widyatama,” ungkap Dr. Wedi di sela-sela peninjauan lokasi.
Ia menambahkan bahwa kesehatan fisik civitas akademika adalah aset vital. Dengan lingkungan yang sehat, kualitas pendidikan dan layanan di Widyatama diharapkan terus meningkat.
Pelopor Kampus Sehat di Bandung
Apresiasi tinggi datang dari Ketua Warga Peduli AIDS (WPA) sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Cibeunying Kidul, Hj. Aneu Susimie Hilmi, S.Pd., M.Pd. Dalam wawancaranya, ia menyebut Universitas Widyatama memiliki peran istimewa dalam peta kesehatan Kota Bandung.
“Perlu menjadi catatan, bahwa kampus Universitas Widyatama ini menjadi pelopor pertama kampus swasta yang mendukung program pemerintah untuk melaksanakan tes atau pemeriksaan kesehatan ini,” ujar Aneu tegas.
Program yang menargetkan 1.500 peserta selama tiga hari ini mengusung slogan STOP (Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan). Pemeriksaan mencakup screening kesehatan jiwa, pengukuran fisik, cek gula darah, kolesterol, hingga deteksi penyakit menular seperti HIV, Sifilis, dan Hepatitis.
Aneu menekankan pentingnya target Three Zero Kota Bandung pada 2030, yakni nol kasus baru HIV, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma. “Kami pemerintah punya tanggung jawab memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat tak terkecuali akademisi. Deteksi dini itu lebih baik,” tambahnya.
Kesadaran Generasi Muda
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi momen penyadaran diri (self-awareness) yang krusial. Liana Nur Febrianti, mahasiswa Angkatan 2024 yang menjadi peserta, mengaku terbantu dengan notifikasi langsung melalui email kampus.
“Bermanfaat banget, soalnya kita kan mahasiswa kadang kalau tinggal sendiri atau sama orang tua, karena tugas makannya suka nggak ke kontrol. Jadi menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat, saya jadi aware sama kesehatan sendiri,” ujar Liana usai memeriksa kadar gula darahnya.
Kesadaran akan kesehatan memang menjadi pondasi utama bagi mahasiswa untuk berprestasi. Mahasiswa seperti Liana yang berasal dari lingkungan akademis dinamis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis tentu membutuhkan kondisi fisik prima untuk menunjang aktivitas perkuliahan yang padat.
Camat Cibeunying Kidul, Drs. H. Aris Rusdianto, M.Si, turut berharap kolaborasi ini berkelanjutan. Ia menyarankan agar kedepannya, program mobile visiting ini dapat diintegrasikan saat masa penerimaan mahasiswa baru.
“Kita berharap kerjasama ini bisa berjalan lagi kedepannya. Karena Kota Bandung sebagai kota pendidikan dan wisata, mobilitasnya tinggi, jadi kita lebih baik antisipasi dari awal,” tutup Aris.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Universitas Widyatama kembali membuktikan diri sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga peduli pada kualitas hidup dan kesehatan seluruh elemen kampusnya.



