Universitas Widyatama PTS No 1 Di Kota Bandung Terus Didorong Menjadi Kampus Bebasis Riset

Universitas Widyatama PTS No 1 Di Kota Bandung Terus Didorong Menjadi Kampus Bebasis Riset

Universitas Widyatama (UTama) kampus ternama yang menempati ranking ke-42 PTN/PTS terbaik di tanah air dan peringkat ke-1 kampus swasta terbaik di Kota Bandung versi Webometrics, selain telah menerapkan program “Kampus Merdeka”, juga terus didorong menjadi kampus berbasis riset bagi mahasiswa termasuk para dosennya.

Hal itu diutarakan langsung oleh Prof. Dr. Mohd Haizam Bin Mohd Saudi, Wakil Rektor III, Bidang Riset, Pengembangan dan Kerjasama UTama.

Menurutnya mahasiswa dan dosen UTama, dalam melakukan semua kegiatan ujungnya harus berbasis riset. Baik itu saat melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan lainnya. Dengan begitu, diharapkan para mahasiswa maupun dosennya bisa lebih visioner. Terlebih akan memiliki jiwa inovatif, kreatif serta bisa memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan dirasakan manfaatnya.

Tentunya untuk melakukan sebuah riset perlu sokongan moril serta materil. Kata Prof Haizam, selama ini dukungan tersebut diberikan oleh Prof.  Dr. H. Obsatar SInaga, M.Si, Rektor UTama maupun Djoko S. Roespinoedji, S.E., PG., DIP., Ketua Yayasan Widyatama.

Termasuk memberikan pelatihan bagi dosen dan mahasiswa dari para pofesor dan profesional untuk memberikan masukan. Saat pandemi ini, biasanya kegiatan pelatihan dilakukan secara web seminar.

“Sebetulnya riset itu mengajarkan setiap individu memiliki ide kreatif dan inovatif. Karena nantinya akan menghasilkan sesuatu yang baru, memecahkan suatu permasalahan dan manfaatnya bisa dirasakan oleh lingkungannya, masyarakat luas di Jawa Barat bahkan Indonesia,” kata Prof Haizam, di ruang kerjanya, Jalan Cikutra No 204-A, Kota Bandung, Kamis (29/7/2021).
“Yang paling penting lagi adalah kredibilitas. Begitu mereka membuat suatu inovasi atau riset, menunjukkan bahwa mereka memiliki kredibilitas untuk menciptakan hal yang baru. Baik itu dalam bentuk produk maupun layanan yang unggul dan tidak terpikir oleh orang lain,” imbuhnya.

Lebih lanjut menurutnya, Kampus UTama bukan sekedar menjadi tempat menambah ilmu saja, namun juga untuk mengembangkan ilmu, baik bagi mahasiswa maupun dosennya. Khusus bagi mahasiswa, dipenghujung studi bisa membuat produk atau layanan yang akhirnya bisa dikomersilkan. Sehingga kampus UTama juga bisa melahirkan seorang entrepreneur yang percaya diri dan mandiri.

Agar programnya berjalan lancar, ia pun telah membentuk lebih dari 44 kluster (di bidang bisnis manajemen, teknik, bahasa dan lainnya). Setiap kluster dipimpin oleh satu orang ketua. Biasanya anggotanya terdiri dari tujuh orang dosen.

Namun kini juga mewujudkan kluster riset yang terdiri dari dosen dan mahasiswa UTama. Sengaja dipadukan untuk berkolaborasi. Alasannya untuk menghasilkan produk baru yang sifatnya belum digunakan oleh publik (kekinian). Biasanya hasil riset dibuat artikel dan dipublikasikan di jurnal internasional, terindeks scopus.

Prof Haizam pun memberikan contoh produk unggulan hasil riset dari dosen dan mahasiswanya, salah satunya dari  Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Mesin UTama. Pada kegiatan PKM, mereka membuat alat penjernih air yang diberi nama Saringan Air Mesin Universitas Widyatama (SarmUT). Alat tersebut bisa membuat air tanah yang berbau dan keruh, menjadi jernih dan tidak berbau, namun tidak untuk diminum. Media penjernihnya merupakan hasil riset yang disesuaikan dengan karakter air tanah di tempat itu. Menjadikan SarmUT, berbeda dengan alat penjernih yang ramai dijual secara umum.

Untuk skala kecil alatnya sudah diaplikasikan di SMK Putra Bahari, Baleendah, Kabupaten Bandung. Sedangkan untuk skala yang lebih besar, manfaatnya sudah dirasakan oleh sekitar 200-an KK, di RW 14, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Keberhasilan alat itu pun kini mulai diminati masyarakat. Oleh sebab itu kata Prof Haizam, produk atau layanan hasil riset nantinya bisa dikomersilkan.

Pada ajang “International Invention Competition Young Moslem Scientists” (IICYMS), tahun 2021, SarmUT juga berhasil meraih “Silver Medals”. Setelah bersaing dengan 105 tim dari 13 negara yang turut serta. Ajang kompetisi inovasi produk tingkat internasional. Dihelat oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djadi, Bandung, pada tanggal 1-4 Juli 2021.

“Masih ada hasil riset lainnya, seperti alat pendeteksi gempa, sepeda listrik dan lainnya. Belum lama, mahasiswa dan dosen kami juga melakukan riset dan PKM di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, untuk bidang teknologi, bisnis, bahasa, layanan digital dan lainnya. Makanya ini, pentingnya sebuah riset yang menghasilkan produk unggulan. Selain bisa membantu masyarakat sekitar, ikut kompetisi juga bisa dikomersilkan. Intinya membuat sesuatu yang baru dan memberikan peluang  bisnis yang bagus,” ungkap Profesor asal “Negeri Jiran” Malaysia.
“Nantinya juga berimbas kepada lulusan Universitas Widyatama sebagai job creator (yang membuka lowongan pekerjaan) terlebih di masa pandemi, untuk mendorong mereka dan keluarganya mencapai ekonomi yang lebih baik. Jadi tidak hanya job seeker (pencari kerja) saja,” imbuhnya.

Ia pun menjelaskan, untuk mendukung dan lebih memperlancar sisi bisnis dan marketingnya akan melibatkan Entrepreneurshsip Innovation Center (EIC) dan Widyatama Incubator Bisnis (WIBI). Rencananya juga akan membuat koperasi.

“Kalau produk atau layanan hasil risetnya sudah dikomersilkan, nantinya akan ada fee bagi dosen dan mahasiswa termasuk pemasukan untuk Koperasi Univeristas Widyatama,” pungkasnya.

(Sumber: majalahsora.com)

Mahasiswa Universitas Widyatama Bagikan Ribuan Nasi Kotak Bagi Warga Kota Bandung Yang Sedang Isoman
Universitas Widyatama Duduki Ranking 40-an PTN/PTS Terbaik Nasional Ketua Yayasan Sangat Berterima Kasih & Bangga Kepada Rektor UTama