Universitas Widyatama Mensosialisasikan Teknologi RWH Dan Eco Garden Dalam Penanggulangan Masalah Kekeringan

Universitas Widyatama Mensosialisasikan Teknologi RWH Dan Eco Garden Dalam Penanggulangan Masalah Kekeringan

Kota Bandung – Universitas Widayatama (UTama) Kota Bandung yang sudah setahun lebih dipimpin oleh Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, S. IP., M. Si., terus melakukan berbagai upaya dalam membantu dan memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat.

 

Di antaranya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Program Studi (Prodi) Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Widyatama.

 

Dengan mensosialisasikan sistem pemanenan air hujan/Rain Water Harvesting (RWH) dan sistem pengolahan air limbah rumah tangga (grey water) atau Eco Garden kepada masyarakat Desa Limbangan Timur, Kecamatan Blubur Limbangan, Kabupaten Garut.

 

Yanyan Agustian, Ph.D., Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Sipil UTama, kepada majalahsora.com memaparkan sosialisasi tersebut dilaksanakan selama satu hari, Minggu tanggal 23 Agustus 2020.

 

Hal itu merupakan rangkaian kegiatan PkM Program Studi Teknik Sipil UTama. Dalam sosialisasinya dijelaskan mengenai metode pemanenan air hujan, menggunakan cara mengumpulkan air hujan yang turun di atap rumah melalui talang air yang ada.

 

Yanyan Agustian PhD Prodi Teknik Sipil Universitas Widyatama Bandung 1 898x1024 - Universitas Widyatama Mensosialisasikan Teknologi RWH Dan Eco Garden Dalam Penanggulangan Masalah Kekeringan

Yanyan Agustian, Ph.D., Kaprodi Teknik Sipil UTama

 

“Air tersebut kemudian ditampung dalam tangki/bak penampungan. Sedangkan metode pengolahan air limbah rumah tangga dengan sistem Eco Garden. Dilakukan dengan cara mengumpulkan air bekas cucian atau mandi, ke dalam bak penampungan untuk selanjutkan diteruskan ke tangki aerasi. Kemudian disalurkan ke taman yang ditanami tanaman air,” terang Yanyan, Senin (24/8/2020).

 

Lebih lanjut ia memaparkan bahwa tanaman air di daerah Desa Limbangan Timur, merupakan elemen penting dalam teknologi Eco Garden, yang berfungsi menyerap dan menyaring zat-zat beracun dari air limbah tersebut secara alami, sebelum air dialirkan ke kolam penapungan akhir.

 

“Air hasil pengolahan dua sistem ini diharapkan bisa kembali digunakan oleh masyarakat Desa Limbangan Timur untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan maupun pakaian, sehingga diperoleh efisiensi penggunaan air saat musim kemarau tiba,” kata Yanyan.

 

“Kegiatan ini baru saja permulaan, dengan adanya sosialisasi ini diharapkan masyarakat Desa Limbangan Timur mulai mengenal teknologi pengolahan air hujan maupun air limbah rumah tangga. Insya Allah ke depan kami akan mengadakan penelitian lebih mendalam terkait potensi air yang ada di sini juga pembuatan model/prototype sistem RWH dan Eco Garden,” imbuhnya.

 

Di samping kegiatan itu juga dilakukan serah terima buku bacaan, bantuan untuk pengayaan taman baca yang ada di lingkungan Desa Limbangan Timur, dalam pelaksanaannya melibatkan seluruh dosen dan mahasiswa.

 

 

Kegiatan PkM itu pun ditutup dengan acara hiburan dan pembagian hadiah dari mahasiswa Prodi Teknik Sipil UTama, kepada anak-anak yang ada di taman baca. Dilakukan tidak lain, untuk lebih memotivasi dan meningkatkan hobi membacanya.

 

Perlu diketahui dalam perankingan pergutuan tinggi, UTama kini menduduki ranking ke-57, perguruan tinggi terbaik negeri/swasta se-Indonesia versi Kemenristekdikti, (18/8/2020).

 

Sementara itu Sobarudon yang mewakili seluruh aparat Desa Limbangan Timur merasa terbantu dengan PkM, UTama.

 

“Kami ucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. mudah-mudahan dengan adanya sosialisasi ini bisa memotivasi seluruh RW di lingkungan kami, untuk menerapkan sistem pengolahan air tersebut. Kami juga sangat berharap program ini bisa berlanjut ke tahap penelitian berikutnya sehingga ke depan tidak akan ada kendala lagi terkait pengadaan air bersih di lingkungan Desa kami,” ujar Sobarudin.

Alat Penjernih Air Keruh Hasil Penelitian Dosen Teknik Mesin Universitas Widyatama Manfaatnya Dirasakan Oleh Masyarakat
UTama Ranking 57, Djoko Roespinoedji Ketua Yayasan Widyatama: Itu Angka Istimewa