“Arthentic” FDKV Widyatama : Saatnya Kami Buktikan Kami Bisa

“Arthentic” FDKV Widyatama : Saatnya Kami Buktikan Kami Bisa

Senin (22/5), Dalam memperingati bulan Pendidikan dan Kebangkitan Nasional, mahasiswa Fakultas Desain Komunikasi Visual (FDKV) Universitas Widyatama mennyelenggarakan acara bertajuk Arthentic dengan mengusung tema “Kebangkitan Bangsa melalui Pendidikan Kreatif yang Inklusif” di Gedung Indonesia Menggugat, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5, Bandung. Acara dengan tagar #TEMANINKLUSI ini menyuguhi para pengunjung dengan pameran karya-karya mahasiswa FDKV Universitas Widyatama, workshop dan ilmu tentang desain komunikasi visual itu sendiri. Selain itu, diadakan pula sosialisasi psikiatri gratis untuk para penyandang disabilitas.

Perlu diketahui, tema pendidikan sekaligus kebangkitan nasional salah satunya pendidikan inklusif, sesuai dengan dedikasi dan komitmen Universitas Widyatama dalam kesetaraan pendidikan dibuktikan dengan Universitas Widyatama yang telah menjadi perintis pendidikan inklusif bagi para penyandang disabilitas dengan didirikannya Art Therapy Center Universitas Widyatama.

Foto by Anne N

Arthentic Widyatama

Sebagai pembuka acara, tarian adat Minang yaitu Tari Piring yang ditampilkan oleh dua mahasiswa dari Art Therapy Center cukup mengundang tepuk tangan meriah dari para tamu undangan dan pengunjung. Selain gerak tari yang indah, cukup kompak dan apik ini, hal yang paling membuat kagum audiens adalah kenyataan bahwa meskipun berada dalam keterbatasan, hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka dalam membawakan gerak tari yang begitu luwes dan harmonis dengan alunan musik pengiringnya. Belakangan diketahui dua mahasiswa yang membawakan tarian tersebut adalah mahasiswa tuna rungu.

“Dalam memperingati hari pendidikan dan kebangkitan nasional, Gedung Indonesia Menggugat ini mengingatkan kita kepada Ir. Soekarno saat momen-momen kemerdekaan Indonesia. Acara ini mengusung semangat kebangkitan nasional yang dituangkan dalam bentuk karya-karya anak bangsa yang juga mengusung semangat toleransi,” ujar Sri Lestari Roespinoedji, S.H. selaku Ketua Badan Pengurus Yayasan Widyatama dalam pidato sambutannya. “Hidup harus punya arti bagi diri sendiri dan orang lain, setidaknya dalam bentuk karya. Universitas Widyatama insya Allah amanah dalam mengemban tugas mendidik, salah satunya melalui Fakultas Desain Komunikasi Visual. Acara ini adalah sarana berekspresi dan diharapkan pada akhirnya memberi manfaat pada masyarakat.”

Direktur Edukasi Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri yang diwakili oleh Maman, dalam sambutannya merasa begitu tersanjung bisa turut berpartisipasi dalam acara ini. “Saya merasa tersanjung diundang ke acara ini. Betul sekali bahwa peran serta mahasiswa dalam mengembangkan ekonomi kreatif itu mutlak diperlukan, mengingat pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa ekonomi kreatif itu akan turut mendongkrak perekonomian bangsa. Bekraf akan siap mendukung apabila ada acara serupa, agar mendekatkan jarak antara masyarakat dan pemerintah agar tidak ada lagi gap di antara keduanya.”

Di tengah-tengah acara para tamu undangan dan pengunjung dibuat kembali berdecak kagum dengan penampilan akustik dari Ariel dan Agif, dua mahasiswa dari Art Therapy Center, yang membawakan lagu karya mereka sendiri berjudul “Asap” dan “Buah dan Sayur”. Kemampuan bermain musik dari Ariel dan Agif yang masing-masing menjadi vokalis dan gitaris berhasil membuat seisi ruangan bertepuk tangan untuk penampilan memukau mereka. Meskipun mereka sama-sama berada dalam keterbatasan, kemauan keras untuk tetap berkarya dan berlatih membawa mereka ke keadaan yang boleh jadi orang yang secara fisik diberi kesempurnaan pun belum tentu bisa melakukannya. “Bravo!” tutup Ariel di penghujung lagunya. Tepuk tangan meriah dari audiens pun mengiringi mereka berdua kembali ke ruangannya.

Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama boleh berbangga karena ada seorang mahasiswanya, Ramandhika Haikal Muhammad Ibrahim atau yang lebih akrab dipanggil Ibe, yang berprestasi internasional. “Perguruan tinggi itu harus inklusif dan mau menerima anak-anak ini. Universitas Widyatama menjadi perintis pendidikan inklusif yang digagas oleh ibu Koesbandijah Abdul Kadir. Jika anak-anak penyandang disabilitas saja bisa berprestasi, sudah sepatutnya mereka yang diberi kesempurnaan oleh Allah SWT bisa untuk lebih berprestasi lagi,” ujar Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn. selaku Dekan FDKV yang diikuti acara penyerahan penghargaan dan beasiswa dari pihak Yayasan Widyatama kepada Ibe hatta talkshow yang akan dimoderatorinya. Talkshow dengan topik “ Desain Komunikasi Visual sebagai Sektor Ekonomi Kreatif dalam Perspektif Akademik ” ini mengundang tiga narasumber, Hastjarjo Boedi Wibowo, M.Ds. selaku Ketua AIDIA, dosen dan praktisi, Poppy Savitri selaku Direktur Edukasi Badan Ekonomi Kreatif yang diwakili oleh Maman dan terakhir Rudy Farid, M.Ds. selaku dosen praktisi dan asesor kompetensi.

Perlu diketahui bahwa desain komunikasi visual dipandang sebagai salah satu dari 16 sektor ekonomi kreatif sejak tahun 2016. Pemerintah bersama-sama dengan pelaku usaha dan akademisi akan bersama-sama meingkatkan perekonomian kreatif Indonesia. “Bekraf memiliki program IKON atau Inovatif Kreatif Nasional agar masyarakat dapat terfasilitasi agar dapat memperluas eksplorasi produk. Bekraf pun tidak membedakan masyarakat disabilitas dari yang lainnya. Bisa dikoordinasikan dalam bentuk proposal agar bisa diketahui apa saja kebutuhan khusus bagi para disabilitas. Untuk program-program Bekraf bisa dilihat di website www.bekraf.go.id,” tukas Maman.

“FDKV Universitas Widyatama ingin membuat acara yang lebih besar ke depannya. Khusus bagi teman-teman kita yang disabilitas ini, tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk terus belajar dan diajarkan oleh kita semua, karena mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan berlangsungnya acara ini kami bisa membuktikan eksistensi kami dengan berkarya. Inilah saatnya kami buktikan bahwa kami bisa,” pungkas Hardi, Ketua Pelaksana Arthentic 2017/2018.